Entah dari mana mitos ’darah manis’ itu bermula. Orangtua dulu kerap menganggap anak yang memiliki ’darah manis’ biasanya mempunyai kulit yang kurang mulus. Luka sedikit atau gigitan serangga seperti nyamuk pun dapat menimbulkan peradangan yang meninggalkan bekas. Penanggulangannya pun tak kalah penuh mitos. Anak-anak itu perlu mengkonsumsi dedaunan berasa pahit seperti daun pepaya atau jejamuan yang juga meramu bahan-bahan pahit. Tak kalah ’seram’ bahkan ada yang meyakini darah ular atau daging reptil bisa mengatasi problem itu. Apakah kulit tak mulus itu disebabkan oleh ’darah manis’?
Hipersensitifitas
Menurut Dr. Sutirto Basukit, Sp.KK dokter spesialis kulit dari rumah sakit Tarakan Jakarta, anak yang disebut-sebut memiliki kulit atau darah yang manis adalah anak yang mempunyai kulit hipersensitif. Anak-anak ini biasanya sangat sensitif terhadap gangguan kulit apapun. Tak heran bila sekedar gigitan nyamuk atau serangga dapat menimbulkan peradangan kulit yang dalam dan meninggalkan bekas. Jika pada anak-anak normal bekas gigitan nyamuk itu bisa hilang dalam satu hari atau kurang, pada anak berkulit hipersensitif memerlukan waktu 3-6 hari untuk sembuh. Bahkan butuh waktu lebih lama lagi untuk menghilangkan bekasnya.
Kelainan ini menurut dokter yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Pelayanan RS Tarakan itu lebih sering terjadi pada anak yang memiliki bakat alergi atau asma. Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respon imun) berlebihan yang diakibatkan oleh beberapa penyebab atau alergen. Beberapa anak mengalami hipersensitif pada kulit akibat respon imun yang kebablasan.
Akibat adanya reaksi alergi, maka tubuhpun segera bereaksi. Tubuh akan melawan dengan menghasilkan lebih banyak zat antibodi jenis protein imunoglobulin E (IgE). Jenis protein inilah yang salah satunya terdapat pada kulit. Saat IgE bekerja, jaringan kulit juga turut aktif mengeluarkan zat-zat seperti histamine, Cytokines, dan leukotrines. Zat-zat inilah yang memberi respon alergi seperti gatal-gatal dan terjadi hipersensitif kulit yang menyebabkan gatal menjadi mudah meradang dan berbekas.
Kondisi ini pada umumnya merupakan gangguan yang bersifat genetik atau turunan. Jika salah satu orang tua atau salah satu keluarga si anak mengalami hipersensitif kulit, alergi, atau kecenderungan asma, maka kemungkinan anak mengalami hipersensitif kulit bisa mencapai 25-30%. Akan meningkat menjadi 60-70% jika kedua orangtuanya mempunyai bakat alergi.
Kebersihan dan ASI
Secara teoritis menurut Sutirto hipersensitif pada kulit tak bisa dihilangkan. Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah mengurangi kemungkinan peradangan pada kulit. Caranya dengan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan di sekitar anak. Misal, hindari penggunaan karpet yang dapat menjadi rumah tungau dan atau usahakan tempat tidur anak diberi kelambu atau dibersihkan dari nyamuk.
Upaya pencegahan lain yang sangat penting adalah dengan memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun. Anak-anak yang memiliki bakat hipersensitifitas kulit biasanya akan terbantu dengan konsumsi ASI yang memadai. Di dalam ASI terkandung zat antibodi IgE. Mengapa diperlukan ASI sampai dua tahun? Sebab di masa batita lah kulit menjadi lebih sensitif. Setelah beranjak besar umumnya hipersensitif pada kulit akan berkurang. Bahkan pada beberapa anak hilang sama sekali. Tapi, ada pula yang gejalanya tidak berkurang sama sekali.
“Sebenarnya saya masih meragukan apakah berkurangnya gangguan tersebut karena kualitas kulit anak membaik atau karena anak semakin mengerti bagaimana caranya menjaga kebersihan kulit. Tapi yang pasti upaya pencegahan dapat mengurangi timbulnya gangguan kulit hingga 80%,”tandasnya. Mitos bahwa daun-daunan yang terasa pahit atau jamu-jamuan dapat menyembuhkan kondisi ini sama sekali tidak benar. Tetapi, memang pada beberapa jenis dedaunan ada yang mengandung vitamin B1. Sebuah penelitian menyebutkan vitamin B1 dapat meningkatkan ketahanan kulit atau mengurangi hipersensitifitas kulit. Nah bagaimana? Tak perlu kuatir ya, toh semakin besar kulit si kecil akan berubah mulus. n PG
==========================================================================
Jika Si Kecil Hipersensitif
- Kendalikan kebersihan tubuh dan lingkungan si kecil. Pastikan rumah selalu bersih dan mandikan anak dua kali sehari. Jika masih ragu dengan kebersihan air, campurkan beberapa tetes antiseptik pada air mandinya.
- Pilihlah pakaian dengan berbahan yang dapat menyerap keringat dan tak membuat gatal. Hindari penggunaan pakaian dari bahan wol.
- Pastikan anak mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan memadai. Gizi yang baik akan meningkatkan ketahanan kulit.
- Ada baiknya anak yang punya bakat, mengenakan pakaian tertutup terutama di tempat yang banyak nyamuk atau serangganya. Penggunaan krim anti nyamuk dapat diberikan jika Anda yakin anak cocok dengan krim itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar